Cinta Profesi, Sayang Istri

Uncategorized70 Dilihat

FOKUSKEPRI.COM – Muhammad Amin (38) tetap semangat menjalankan profesinya sebagai pewarta, di tengah pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19). Dia tetap beraktifitas menjalankan tugas tugas jurnalistik, Covid 19 tak menghalanginya berkarya untuk menyajikan berita yang layak di percaya kepada para pembaca.

Kepada Fokuskepri.com, wartawan Harian Riaupos ini menceritakan kesibukannya melakukan liputan Covid-19, dalam tuntutan profesi bercampur rasa cemas akan ancaman paparan Covid-19.

Di pekan kedua bulan Oktober 2020, pria yang akrab di sapa Amin ini melakukan liputan di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan, disana ada kegiatan swab massal, puluhan pegawai salah satu instansi di lingkungan Pemkab Pelalawan tengah menunggu antrian untuk melakukan test swab.

“Hari Senin, tepatnya tanggal 12 Oktober, sejak pagi saya melakukan liputan di Dinas Kesehatan, ada agenda swab test massal, sebenarnya ada rasa takut datang ke sana, namun karena tuntutan profesi, ya harus saya lakukan,” kata Muhammad Amin memulai kisahnya, Senin (7/12/2020).

Di halaman kantor Diskes, tempat tes swab berlangsung, Amin memantau dari kejauhan, protokol kesehatan tetap di jaganya, masker berSNI dipakainya, sesering ia mengeluarkan botol bening dari sakunya sembari menyemprotkan isi cairan (Hand sanitizer) ke telapak tangannya.

“Tugas profesi di masa pandemi ini harus di barengi dengan kewaspadaan ekstra tinggi, protokol kesehatan harus menjadi harga mati, diabaikan ancamannya bisa mati,” katanya serius.

Dalam liputannya di Dinas Kesehatan Pelalawan, jemari Amin tak henti bergerak, mengetik kata perkata dalam rangkaian kalimat hingga membentuk sebuah berita di Smart Phone nya, kadang diselingi dengan beberapa pertanyaan ke Kadiskes yang bertanggung jawab jalannya kegiatan hari itu, kadang ia pun melontarkan satu dua pertanyaan ke petugas yang berpakaian Hazmat pengambil cairan hidung dan mulut peserta swab.

Berkat memanfaatkan teknologi informasi Smart Phone, Amin bisa menuntaskan tugas kewartawanannya saat itu bersamaan dengan bubarnya kegiatan swab, karena antrian sampai ke peserta terakhir.

“Ketika berita selesai di ketik di HP android, saya langsung mengririmkan ke redaksi Riaupos, lega bisa menyelesaikan tugas tepat waktu,” imbuhnya.

Ketika swab test berakhir, Amin dan beberapa wartawan lain di ajak oleh Kadiskes untuk ngopi bersama di kantornya, mempersilahkan rekan media menggali informasi yang dibutuhkan untuk bahan berita terkait pelaksanaan swab test hari itu, sambil melepas lelah, tak ada salahnya rehat sejenak.

Saat hendak melangkah menuju ruang kerja Kadiskes, telepon selular milik Amin berdering, segera diangkatnya, di layar tertera tulisan “Mama Tersayang”, hati mulai timbul tanda tanya, tak biasa istri tercinta menelpon di waktu waktu seperti itu, istri nya paham betul bagaimana jadwal suaminya bekerja, palingan sekitaran 20 menitan sebelum azdan Magrib berkumandang baru ia sampai di rumah, kali ini, tak seperti biasanya. Apa gerangan yang sedang berlaku?

Panggilan diterima, diujung telepon terdengar suara lirih  dari Selfi Pobni (32), istri tercinta menceritakan keadaanya, rasa kembung dan sesak di bagian hulu hatinya, obat anti maag yang di beli dari warung tetangga sudah dua biji di minumnya, sakit tak juga mereda. Malah bertambah kumat menjelang sore berganti malam. Sembari mengangguk, pertanda mengamini permintaan sang istri, Amin menutup hape, ia langsung bergegas menuju mobilnya, tancap gas pulang ke rumah.

“Mendengar istri sakit, saya langsung pulang, agar bisa membawanya ke dokter,” kenang Amin.

Sesampai di rumah, Amin berlari kecil bergegas menemui istri tercinta yang tengah ditemani si buah hati putra semata wayang, Ibnu Wahid Al Fikri (7)  sudah siap untuk pergi.

Dalam hitungan menit, kendaraan roda empat jenis city car tanjap gas dari kediaman mereka di jalan Arifin gang 2.000 Pangkalan Kerinci, meluncur kencang menuju ke tempat praktek dokter di jalan lintas Timur, dokter yang hendak didatangi itu kebetulan sudah kenal dekat dengan Amin, biasa menjadi narasumber dalam banyak tugas jurnalistik.

Sesampai di tempat praktek dokter, keluarga kecil ini sudah disambut oleh sang juru penyembuh yang sebelum nya sudah di telponnya perihal keadaan kesehatan istrinya.

Dari hasil pemeriksaan, Selfi mengidap maag akut,  perlu istirahat dan membuang beban pikiran, diagnosa dokter membuat pasangan ini lega, mereka pulang ke rumah sambil menenteng obat dengan asa akan mereda.

” Dianosa dokter, katanya sakit maag,” cerita Amin.

Malam berganti, suara azdan berkumandang di masjid membangunkan Amin, ketika terjaga, tak dilihatnya istri di samping, ia pun bergegas keluar kamar memeriksa apa gerangan yang terjadi.

Selfi tengah duduk sendiri di kursi makan, sesering pula ia meneguk air putih hangat yang di pegangi nya di atas meja, tangan kiri mencekeram kuat perutnya, ia merasa obat yang diminum semalam belum pula berkhasiat.

“Waktu terjaga subuh paginya, kulihat istriku tak ada di tempat tidur, langsung ku keluar kamar mencarinya, rupanya ia sedang kesakitan di ruang makan sambil terus mengelus perutnya, kasian sekali istriku saat itu,” lanjut Amin berkisah.

“Aku berusaha menguatkan istri,  dan berjanji mengantarkan ke Puskesmas paginya,” imbuhnya.

Jam dinding menunjukkan pukul 08.15 WIB, Amin sudah menyelesaikan sarapan lontong sayurnya yang di beli dari warung bude Narsih, sarapannya ditemani si buah hati, Selfi Tak memiliki nafsu makan, ia hanya berusaha menghabiskan sepotong roti untuk mengganjal perutnya di temani teh panas.

Selepas menghabiskan sarapan pagi, Mereka segera meluncur membelah cuaca mendung pagi. Jarak dari rumah ke puskesmas memang tak jauh, paling hanya memakan waktu 10 menit perjalanan.

Sesampai di puskesmas, Selfi langsung di tangani oleh dokter jaga, tak lama sang dokter memberikan diagnosanya. Selfi harus di rujuk ke RSUD Selasih untuk penanganan lebih lanjut, kata Amin, istri nya harus di rontgent di Rumah Sakit, istri nya mulai cemas, Amin tetap berusaha menenangkan.

“Kembali lagi harus ku kuatkan istriku, ku yakinkan dia bahwa sakitnya akan sembuh,” kenang Amin.

Pasangan ini tak menyia nyiakan waktu, ia bergegas menuju Rumah Sakit kebanggaan masyarakat Kabupaten Pelalawan, setelah memarkirkan mobil nya, Amin bersama Selfi dan putra mereka yang ikut serta langsung menuju ruang UGD, menunjukkan surat rujukan ke petugas piket.

Perawat yang berjaga di ruang UGD mengenakan APD lengkap, dengan pakaian hazmat bak astronot, mengenakan sarung tangan berlapis, masker dan faceshield menambah kecemasan Selfi, apa yang akan berlaku kepadanya.

Selfi pun di rontgen, Amin menunggu dalam hati yang tak henti berdoa, meminta kepada sang pencipta menyehatkan istrinya, menghindarkannya dari berbagai penyakit berat dan paparan Covid 19.

Tak terasa lama menunggu, dokter jaga memanggil Amin dan memberitahukannya hasil Rontgen istrinya. Ada cairan yang menutupi paru paru Selfi, ia harus di Swab, sambil menunggu hasil swab dari laboratorium Pekanbaru, Selfi harus di isolasi di ruang khusus di RSUD Selasih.

Dunia seakan runtuh, Amin panik tak tau harus berbuat apa, ia tak lagi diperkenankan bersua istri tercinta,  Selfi langsung di bawa ke ruang isolasi tanpa pamit kepadanya. Hati Amin gundah. Hanya kepada tuhan ia bisa berpasrah.

“Kata dokter, jika hasil nya positif nanti, istri saya harus di isolasi 14 hari, saya dan anak saya akan di Swab juga, tapi kalau negatif, istri saya boleh pulang,” kata Amin.

Tanpa pelukan sayang, Amin dan sang putra meninggalkan RS hanya dengan pamitan lewat video call, istri nya menghapus air mata tak tahan melihat putra tersayang malam ini tidur tanpa pelukan mama.

Amin menjanjikan akan menemani istrinya melewati malam lewat video call, kebutuhan istrinya akan diantarnya nanti, ia pun tak henti berusaha menguatkan si belahan jiwa, meyakinkan sang terkasih, bahwa ia selalu ada disampingnya, melewati cobaan yang datang.

Dua hari berlalu, hasil swab dari lab di Pekanbaru pun tiba, Amin berharap istrinya negatif dan segera berkumpul kembali di rumah, malamnya, ia telah menyusun rencana untuk membawa istrinya makan di luar, di Rumah Makan Sederhana, masakan Minang kesukaan sang istri.

Walau berbagai kejutan dipersiapkan menyambut kepulangan kekasih hati, namun tak dapat menyembunyikan kegalauan hatinya, ketakutannya jika nanti hasil swab nya positif, Amin mempersiapkan mental, jika kemungkinan terburuk harus ia hadapi.

“Dua hari tanpa istri serasa dua tahun, waktu berjalan sangat lambat, banyak rencana menyambut istri pulang kerumah, salah satu nya mengajak makan malam di luar, di rumah makan masakan minang kesukaan istri,” tutur Amin

Ketika hasil swab istri di sampaikan, Amin tak mampu membendung sedih, hatinya terguncang, nama Selfi terkonfirmasi positif, ia akan melanjutkan masa isolasi sampai 12 hari kedepan.

Wartawan Riau Pos Muhammad Amin menjalani test swab di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan

Tak pula selesai sampai di Selfi, Amin dan sang putra pun harus bersedia di Swab, karena kontak terdekat dari pasien positif Covid 19 atas nama Selfi.

“Hasil swab nya positif, ditambah 12 hari lagi isolasi, kami pun harus di swab pula” akunya

Amin beruntung, ia dan putra nya negatif setelah hasil swab keluar dua hari setelah itu.

“Alhamdulillah, kami berdua negatif, tinggal fokus kepada istri saja, sambil berharap semoga cepat berlalu.” Kata Amin.

Pasca sang pujaan hati ditetapkan sebagai pasien positif Covid-19, beban berat kembali di pikul pria berdarah Ocu Kampar ini. Selama istri di isolasi,  Ia harus ikhlas menjalankan peran ganda di rumah, menjadi ayah dan ibu sekaligus bagi sang buah hati, serta menjadi suami yang harus selalu siap sedia mensupport sang istri berjuang melawan virus corona.

Tuntutan profesionalisme sebagai wartawan tidak pula diabaikan, ia tetap mencari berita, melaksanakan kewajibannya kepada redaksi untuk mengirimkan laporan aktualnya dalam berita yang hangat terpercaya.

Dua pekan memaksa Amin menjadi pria tangguh, ia harus menjadi imam yang baik, yang   memberi rasa nyaman kepada keluarga kecilnya, tanggung jawab professional juga harus ia tunjukkan dalam waktu yang bersamaan. Ia tak mengeluh, semua dilakoni dengan lapang dada, Amin meyakini, di balik pendakian ada penurunan, semua akan indah pada waktunya.

“Dua hari saja sudah terasa berat, apa lagi dua pekan, namun semua ada hikmahnya, jadi tambah sayang ke istri,” kata pria berperawakan tinggi berkulit hitam manis ini sambil tersenyum.

Tepat di hari peringatan sumpah pemuda, tanggal 27 Oktober 2020, Selfi genap dua pekan sudah menjalani karantina di RSUD Selasih, ia akan segera pulang, membayar hari hari yang hilang bersama keluarga kecilnya.

“Hari yang penuh keharuan, bisa berkumpul dengan istri kembali, anak sudah sangat rindu mamanya,” kenang Amin

Perasaan lega juga diungkap oleh sang istri, Selfi Pobni mengaku berat menjalani masa karantina seorang diri dalam kerinduan pelukan suami dan anak tersayang, namun ia tabah menjalaninya, demi dirinya dan keluarga tercinta.

“Berat jauh dari orang orang tersayang, dua pekan tanpa suami dan anak disisi kita, alhamdulillah, semua sudah terlewati, bahagia berkumpul kembali,”ungkap Selfi haru bahagia

Setelah apa yang terjadi padanya, Amin berharap hal itu tidak dialami oleh keluarga lain, syaratnya tentu harus mematuhi protokol kesehatan, taat 4M, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

“Sampai sekarang saya masih bingung, dimana istri saya terjangkit Covid 19, memang harus selalu waspada,” harap Amin.

Amin pun tak henti berpikir, ia yang sering bersentuhan dengan tugas liputan Covid 19 malah hasil swab dinyatakan negatif, istrinya hanya ibu rumah tangga, bisa terpapar Covid 19.

Kepala Puskesmas Pangkalan Kerinci, Nurmaini SKM mengatakan bahwa berdasarkan hasil tracking pasien terdahulu, di sekitar tempat tinggal Muhammad Amin ada warga disana yang lebih dulu dinyatakan positif Covid 19, istri Amin terpapar dari sang tetangga.

“Di gang dua ribu ada warga yang lebih dulu terkonfirmasi posisitif, Selfi, istri Amin terjangkiti dari tetangganya itu,” kata Nurmaini, Selasa (21/12020)

Sementara itu, Kepala dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan Asril M.Kes menyebutkan bahwa tanpa kita sadari Covid 19 menjangkiti, tahu tahu gejala muncul dengan cara tak diduga, malah banyak orang tanpa gejala.

Apalagi, jika melihat angka jumlah orang yang terkonfirmasi positif Covid 19 masih menunjukkan angka yang mengkwatirkan.

“Kita tidak tahu bahaya Covid 19 ini datang dari mana, hanya kewaspadaan yang menjadi penyelamat kita, tetap patuhi protokol kesehatan, memakai masker, sering mencuci tangan, jaga jarak dan hindari kerumunan,” kata Kadiskes Asril Rabu (23/12/2020). (Apon Hadiwijaya)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *