Tradisi Masyarakat Pelalawan Yang Berbudaya Melayu

    0
    Penganugerahan gelar adat kepada Bupati dan Wakil Bupati Pelalawan oleh Sultan Pelalawan.

    PELALAWAN, Fokuskepri.com – Budaya Melayu sudah mengakar dan mendarah daging dalam masyarakat Kabupaten Pelalawan, baik yang berdomisi di daerah pesisir sepanjang aliran Sungai Kampar, atau disebut Melayu Pesisir maupun di daerah daratan yang disebut Melayu Petalangan. Dua daerah penopang terjaganya khazanah budaya Melayu di negeri Seiya sekata tanah Pelalawan ini masih istiqomah mempertahan kan tradisi tradisi lokal yang sudah turun temurun dilaksanakan dari generasi ke generasi anak jati Melayu Pelalawan.

    “Budaya masyarakat Pelalawan saat ini tidak terlepas dari pengaruh kesultanan Pelalawan, tradisi tradisi itu memang sudah mendarah daging di masyarakat,” terang tokoh budaya Pelalawan Tengku Nahar.

    Disebutkan Tengku Nahar, salah satu contoh mendarah dagingnya tradisi tradisi Islami yang dipengaruhi oleh keluarga Kesultanan Pelalawan dalam kehidupan masyarakat adalah Mandi Balimau, setiap memasuki bulan suci Ramadhan, keluarga Sultan selalu membuka kegiatan mensucikan diri itu dari istananya di Keluarahan Pelalawan saat ini, tradisi tersebut tetap terpelihara hingga kini.

    “Mandi Balimau, Balimau Sultan, Balimau Kasai dan balimau balimau lainnya adalah budaya Islam yang di bawa oleh keluarga Sultan, tradisi tersebut masih diterapkan hingga kini, karena kegiatan tersebut sarat makna kebersamaan, silaturahmi, mensucikan diri.

    Tarian persembahan merupakan budaya Melayu yang tak lekang oleh zaman, tarian selamat datang untuk menyambut para petinggi negeri masih lestari hingga kini. Di masa dulu saat masyarakat mengadakan acara acara di kampung, petinggi kesultanan datang selalu di sambut oleh tarian persembahan itu, tradisi itu berlanjut di masa Pemerintahan Kabupaten Pelalawan hingga saat ini. Kegiatan pemerintahan di kecamatan kecamatan maupun di desa desa selalu menampilkan tari persembahan yang biasanya di bawakan oleh remaja remaja puteri.

    “Tarian gemulai yang menyimbolkan penghormatan itu berpadu dengan sekapur sirih ditampilkan di awal kegiatan sebagai bentuk sambutan kepada tamu agung,” Kata Tengku Nahar.

    Apa yang disebutkan oleh pria yang masih memiliki garis darah biru di kesultanan Pelalawan ini hanya sebagian contoh kecil saja. Mengingat Melayu Riau dan Melayu Pelalawan khususnya sangat kaya akan khazanah budaya. Baik berwujud benda maupun warisan budaya tak benda.

    Ragam budaya yang dimiliki oleh negeri yang bermula di Pekantua ini menjadi harapan untuk tetap lestari dan dijaga oleh setiap generasi di bumi seiya sekata Melayu Pelalawan ini.

    Keinginan penutur petatah petitih adat budaya Pelalawan kiranya tak bertepuk sebelah tangan sampai di genggamam keluarga sultan, lembaga adat dan para budayawan yang dengan setia menjaga panji tradisi negeri dalam rupa dan wujud yang tak pernah mati. Selalu terpelihara hingga saat ini.

    Thalil bianyut diacara balimau Sultan Pelalawan.

    Keinginan tersebut gayung bersambut dengan keinginan Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan. Perwujudan keingina tersebut tertuang dalam tonggak rencana pembangunan jangka panjang daerah hingga tahun 2025 dengan tujuan mengembangkan nilai budaya Melayu di tahun 2025.

    Di bawah Pemerintahan Bupati Pelalawan H Zukri dan Wakilnya H Nasaruddin, menyatukan budaya dan pariwisata dalam satu rangkaian di misi ke empat dengan mengemban tagline maju wisata dan budaya.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pelalawan Syahrul S.Pd mengatakan Pemkab Pelalawan saat ini berusaha keras melakukan upaya pemajuan kebudayaan dengan melakukan strategi secara rasional dan sistematis melaui perencanaan, pelaksanaan, pemantauan serta evaluasi kebijakan yang memperhatikan perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan.

    “Semangat Pemerintah daerah untuk memajukan kebudayaan Melayu di bumi Pelalawan ini dapat dilihat dengan dibentuknya tim penyusun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang di SKkan dan ditandatangani oleh pak Bupati,” kata Syahrul.

    SK Bupati Pelalawan bernomor 180/Dikbud/2021/827 tertanggal 12 Agustus 2021 itu menjadi landasan bagi tim PPKD untuk mengidentifikasi objek kemajuan kebudayaan daerah. Karya tim PPKD ini menjadi dokumen yang memuat kondisi factual dan permasalahan yang dihadapi dalam upaya pemajuan kebudayaan.

    Syahrul menggaris bawahi, Sebagai perwujudan cita cita luhur membangun peradaban yang berkesinambungan dari generasi ke generasi. Yang mayoritas penduduknya orang Melayu beragama Islam, termasuk didalamnya orang pebatinan Kurang Aso Tigo Puluh atau pebatinan Petalangan, suku yang bermukim di wilayah Kecamatan Langgam, Pangkalan Kuras, Bunut, Kuala Kampar dan Kecamatan Pelalawan tepatnya di hutan pedalaman sungai Kampar.

    “Alhamdulilah, sejauh Pemerintah daerah konsisten melakukan berbagai upaya pelestarian budaya, seperti menggalakkan event event kebudayaan tahunan, seperti madi balimau, potang mogang, maupun event pariwisata berbasis budaya, seperti festival Bono, festival seni Equator dan lainnya, itu adalah semangat masyarakat Pelalawan untuk memajukan kebudayaan di negeri ini,” tegasnya.

    Sementara itu, Bupati Pelalawan H Zukri bertekad menjadi mewujudkan keinginan masyarakat adat Kabupaten Pelalawan yang selama ini terus menjaga dan melestarikan budaya melayu dengan nilai luhur, harkat dan martabat tinggi di Negeri Melayu Lancang Kuning.

    Bupati Pelalawan H Zukri.

    H Zukri sudah bertekad membulatkan hati, mengazamkan diri sekuat tenaga dan pikiran untuk berbakti kepada negeri, membawanya agar maju dan sejajar dengan negeri-negeri yang lain.

    “Kita jaga negeri ini dengan budaya dan adat istiadat yang bermarwah,” tegas Zukri saat penambalan gelar datuk setia amanah beberapa waktu lalu.

    Lanjut Bupati Pelalawan, bahwa hal ini tercermin pada visi dan misi Bupati dan Wakil bupati periode 2021-2026, yakni mewujudkan Kabupaten Pelalawan sebagai pusat industri dan pariwisata yang makmur ekonominya, adil dalam berkehidupan dan pembangunan, jaya kinerja daerah dan unggul sumber daya manusianya di tahun 2026 dengan lima misi yang sudah ditetapkan.

    Pada misi yang kelima, yakni maju wisata dan budaya, memiliki konsep, yakni mengembangkan wisata daerah berbasis partisipasi masyarakat dan memajukan budaya melayu sebagai perekat negeri.

    “Hal ini membuktikan perhatian kami yang tinggi terhadap kemajuan budaya daerah, lantaran kami menyadari bahwasanya budaya yang maju mencerminkan masyarakat yang beradat dan berbudi bahasa. Sebagai mana ungkapan Melayu, jika hendak mengenal orang berbangsa lihatlah kepada budi dan bahasa” terang mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pelalawan. (Fikri)

    Berita sebelumyaGeliat Wisata Pasca Pandemi, Festival Bono Akan Digelar Tahun Ini
    Berita berikutnyaTekankan Sinergitas, Kapolda Riau Sambangi 2 Markas TNI pada Kunjungan Kerjanya ke Wilayah Polres Kampar

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here