Tanggapan Ketua DPRD Natuna soal Pro Kontra Tambang Pasir Kuarsa

0
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Natuna, Daeng Ambar.

NATUNA, Fokuskepri.com – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Natuna, Daeng Amhar angkat bicara soal tambang pasir kuarsa yang dikeluhkan warga.
Sebelumnya, sejumlah masyarakat mengatasnamakan Aliansi Natuna Menggugat telah membuka ruang dialog dengan Kapolres Natuna pada Sabtu (14/05/2022) lalu.

Wan Sofian selaku Ketua Aliansi Natuna Menggugat menuturkan, kunjungan mereka itu terkait aktivitas tambang pasir kuarsa oleh beberapa perusahaan di Natuna.
Pihak aliansi juga menanyakan legalitas perizinan perusahaan yang akan melakukan eksplorasi di Desa Teluk Buton, Natuna.

Dimintai tanggapannya, Daeng Amhar mengatakan, persoalan tambang merupakan wewenang pusat bukan daerah.
Namun sepanjang tambang menguntungkan daerah dan tidak merusak lingkungan, tidak masalah.

“Tapi persoalan dari saya, perusahaan tambang ini harus memenuhi persyaratan tertentu. Izinnya lengkap, studi kelayakan lingkungan, merusak lingkungan apa tidak dan pasca tambang atau eksploitasi perusahaan harus menutup kembali galiannya dan melakukan penghijauan kembali,” kata Daeng Amhar di kediamannya, Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Minggu (15/05/2022) sore.

Foto: Istimewa.

Menurutnya, Natuna yang berada di ujung utara Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa dan memiliki banyak potensi tambang, seperti batu granit, batu kapur dan bahkan pasir.

“Memang potensi tambang diciptakan Tuhan untuk dikelola. Merusak sudah pasti tapi pasca tambang harus betul-betul diperhatikan. Rezeki manusia Tuhan yang atur, tapi kita juga jangan serakah dengan tidak memikirkan ekosistemnya,” ujarnya.

Daeng Amhar mencontohkan, beberapa daerah yang pernah dijadikan tambang. Seperti di Bangka, pulau ini habis dikeruk, Dabo juga rusak akibat timah, Bintan dengan bauksitnya, Karimun dengan pasirnya.

“Saya setuju perusahaan tambang pasir kuarsa masuk ke Natuna, tapi saya juga setuju adanya Aliansi Natuna Menggugat bergerak dengan catatan kontrol sosial. Mereka demo atau mengkritisi itu baik. Bahwa memang ekosistem alam juga harus dipelihara. Tapi tambang juga harus dikelola dan dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan cara yang baik,” tegas Daeng Amhar.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa setiap investor yang masuk harus melengkapi seluruh persyaratan administrasi dan juga perizinan.

Terkait perizinan tambang pasir kuarsa, Daeng Amhar mengatakan, hingga saat ini DPRD Natuna belum menerima sosialisasi, dokumen tambang dan perizinan dari pihak perusahaan.***

Berita sebelumyaHalal Bi Halal di Pulau Jaloh, Amsakar Sebut Kebersamaan Merupakan Kunci Suksesnya Pembangunan Batam
Berita berikutnyaPeresmian Masjid Al Falah Bupati Afrizal Sintong Harapkan Warga Kubu Jaga kekompakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here