BATAM, FOKUSKEPRI.COM – Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi, termasuk mengenai investasi. Dalam hitungan detik, AI dapat membantu mencari informasi, merangkum topik, hingga memberikan rekomendasi keuangan. Namun, kemudahan ini juga perlu diimbangi dengan kewaspadaan karena AI dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan informasi palsu yang terlihat meyakinkan.
Misalnya, masyarakat mungkin menemukan video di media sosial yang menampilkan seorang tokoh terkenal sedang merekomendasikan saham atau menawarkan investasi dengan keuntungan besar. Sekilas, video tersebut tampak asli. Padahal, video itu bisa saja dibuat menggunakan AI untuk meniru wajah atau suara seseorang. Fenomena ini dikenal sebagai deepfake, yaitu konten berupa video, suara, atau gambar yang dibuat atau dimanipulasi menggunakan teknologi sehingga menyerupai orang atau peristiwa nyata.
Dalam penipuan investasi, deepfake dapat digunakan untuk meniru tokoh publik agar tawaran investasi terlihat lebih terpercaya. Investor juga perlu mewaspadai konten influencer sintetis, dokumen investasi palsu, serta materi promosi keuangan yang dibuat menggunakan AI untuk memengaruhi keputusan. Karena itu, tampilan yang profesional atau sosok yang dikenal bukan jaminan bahwa suatu informasi benar. Investor perlu memeriksa keaslian informasi dan legalitas pihak yang menawarkan investasi melalui sumber resmi.
Selain mengenali konten palsu, investor perlu mencermati tawaran yang menjanjikan keuntungan tinggi tanpa risiko. Ajakan untuk segera mentransfer dana, menyerahkan data pribadi, atau mengambil keputusan dalam waktu singkat juga patut dicurigai. Meluangkan waktu untuk memeriksa legalitas pihak yang menawarkan investasi dan mencari informasi dari sumber resmi dapat membantu investor menghindari penipuan.
Baca Juga: Investasi di Tengah Fluktuasi: Kunci Menjaga Disiplin dan Ketahanan Investor
Di sisi lain, AI tetap dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mempelajari investasi, mencari informasi, dan memahami berbagai istilah keuangan. Namun, hasil AI tidak selalu akurat, mutakhir, atau bebas dari bias. Jawaban maupun rekomendasi yang disampaikan dengan bahasa meyakinkan belum tentu sesuai dengan kondisi keuangan dan profil risiko setiap investor. Oleh karena itu, investor perlu melakukan riset secara mandiri, membandingkan informasi dari sumber yang kredibel, serta menggunakan pertimbangan pribadi sebelum mengambil keputusan.
Bagi investor yang menggunakan aplikasi atau platform investasi berbasis AI, penting untuk memahami bagaimana teknologi tersebut menghasilkan rekomendasi dan membaca keterbukaan mengenai penggunaannya. Rekomendasi perlu dinilai berdasarkan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko investasi masing-masing. Kemudahan memperoleh rekomendasi maupun melakukan transaksi juga tidak seharusnya mendorong investor untuk terlalu sering bertransaksi tanpa pertimbangan yang matang.
Pentingnya kewaspadaan di tengah perkembangan teknologi menjadi salah satu pesan dalam World Investor Week (WIW) 2026. Melalui Ring the Bell for Financial Literacy 2026 yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 14 Oktober 2026, edukasi investor mengangkat tiga isu utama, yaitu Investor Resilience, Digital Deception, dan Scam Alert. Ketiganya mendorong investor untuk membangun ketahanan dalam menghadapi dinamika pasar, bersikap kritis terhadap informasi digital, serta waspada terhadap berbagai bentuk penipuan.
Baca Juga: Awak Pesawat Investor Saham, Kolaborasi BEI dengan Industri Aviasi
Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum BEI Umi Kulsum dalam sambutannya menekankan pentingnya sikap waspada dalam menghadapi perkembangan teknologi. “Investor yang waspada selalu memverifikasi informasi dan menjaga keamanan datanya,” ujarnya.
Kewaspadaan juga perlu disertai langkah nyata untuk melindungi data dan akun keuangan. Investor sebaiknya tidak membagikan informasi pribadi, rekening, kata sandi, maupun kode keamanan kepada pihak yang tidak terverifikasi. Untuk memperkuat perlindungan akun, gunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun, serta aktifkan autentikasi dua faktor jika tersedia. Apabila menemukan dugaan penipuan, masyarakat dapat melaporkannya kepada pihak yang berwenang.
Pada akhirnya, AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi investor. Teknologi ini dapat membantu masyarakat belajar dan memperoleh informasi, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan sikap kritis dan pertimbangan yang matang. Dengan memverifikasi informasi, menjaga keamanan data, serta memanfaatkan AI secara bijak, investor dapat lebih siap mengambil keputusan dan melindungi diri di tengah perkembangan teknologi digital.
Ingin memperdalam pengetahuan tentang investasi dan mendapatkan informasi resmi seputar pasar modal Indonesia? Kunjungi situs resmi Bursa Efek Indonesia di www.idx.co.id dan ikuti media sosial resmi BEI untuk memperoleh berbagai informasi edukasi pasar modal. (Red)
![]()













