Senin , 18 Februari 2019
Home / Berita Utama / Lingga / Lembaga Adat Melayu Desa Kualaraya Jadi Barometer Dalam Melestarikan Adat Istiadat Melayu
IMG-20181126-WA0008

Lembaga Adat Melayu Desa Kualaraya Jadi Barometer Dalam Melestarikan Adat Istiadat Melayu

IMG-20181126-WA0008

FOKUSKEPRI.COM, LINGGA — Lembaga adat melayu (LAM) Desa Kualaraya Kecamatan Singkep Barat Kabupaten Lingga yang terbentuk beberapa waktu yang lalu membuat beberapa gebrakan. Salah satunya membahas adat istiadat perkawinan dan tata cara menghidangkan makanan, yang akhir akhir ini sudah mulai ditiadakan.

Pembahasan (musyawarah) yang diadakan di Surau Nurul Ikhwan, Dusun Satu Kampung Bukit, dihadiri Ketua LAM,M.Thahir, Ketua Surau Johari, tokoh masyarakat H. Zakaria, pendamping kelompok Berzanji,Kasran dan masyarakat sekitar, Minggu (25/11/2018) pukul 20.00 Wib.

Kepada Fokuskepri.com, ketua LAM Desa Kualaraya, M. Thahir mengatakan, Memang akhir-akhir ini banyak yang telah hilang atau ditiadakan dalam tata cara adat perkawinan, seperti mandi bersama dalam satu kain sarung, dan tari zapin pada malam bertepuk.

“Untuk itu Lembaga adat Melayu (LAM) Desa Kualaraya ini akan kami jadikan percontohan bagi desa lain yang ada di wilayah Kecamatan Singkep Barat dan kabupaten Lingga. Nanti akan diingatkan secara perlahan-lahan sehingga bisa jadi percontohan oleh desa lain,” harapnya.

Seperti diketahui, salah satu acara dalam adat perkawinan Melayu adalah, makan di Depan Pelaminan yakni, Kegiatan yang sekaligus merupakan akhir dari proses upacara perkawinan.

Makanan yang disediakan dalam acara ini adalah: berupa nasih putih, sepiring gulai ayam, sepiring gulai ikan (dimasak asam pedas), sepiring telur (direndang) dan sepiring acar. Untuk pencuci mulut, disediakan pula kue bolu, agar-agar bersantan, antakusume dan pisang lemak manis atau pisang ambon. Seluruh hidangan tersebut ditempatkan dalam sebuah tempat yang khusus untuk makan bertiga (pahar besar). Pahar tersebut ditutup dengan penutup yang terbuat dari pandan yang disebut sebagai tudung saji.

Tudung tersebut masih ditutup dengan tudung hidang yang terbuat dari kain perca. Tudung hidang ini bentunya empat persegi panjang sama sisi (sisi-sisinya kurang lebih 0,8 meter). Di tengah- tengahnya ada sulam benang emas dan manik-manik.

Ketika acara makan dilakukan, pengantin laki-laki bersama dua orang temannya dilayani oleh Mak Inang. Sementara, pengantin perempuan hanya duduk-duduk di dapur sambil menunggu piring kotor yang nanti akan diantar oleh Mak Inang. Selesai makan bersama, pengantin laki-laki memasukkan/menyelipkan sedikit uang (dalam amplop) ke bawah pahar. Uang itu adalah sebagai ungkapan terima kasih kepada Mak Inang yang telah menyediakan dan melayani mereka makan.

Sebagai catatan, acara makan di depan pelaminan ini biasanya diadakan satu hari satu malam (makan pagi, makan siang, dan makan malam). Dengan berakhirnya acara makan di depan pelaminan in, maka berakhir sudah rangkaian upacara perkawinan pada masyarakat Kepulauan Riau (Singkep, Lingga, dan Senayang). (MS).

 

About Redaksi Fokus Kepri

Check Also

IMG-20190130-WA0014

Perum Damri Operasikan 2 Bus Tambahan Untuk Kabupaten Lingga

FOKUSKEPRI.COM, DAIK LINGGA — ¬†Kabupaten Lingga memang merupakan daerah kepulauan yang dihubungkan dengan laut dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *